Rabu, 18 Maret 2015

Kisah Cinta Patih Majapahit di Balik Lambang Burung Garuda

Siang itu, langit cerah dan udara cukup panas di Kalimantan Barat, tepatnya di Sintang. Cuaca tersebut bisa dirasakan hampir setiap hari di Sintang. Di tengah kabupaten itu, terdapat sebuah Istana Al-Mukarramah Kesultanan Sintang yang berdiri sejak Abad ke-13 Masehi atau sekitar tahun 1262 Masehi.

Ada banyak sejarah yang tersimpan di Istana Al-Mukarramah. Salah satunya yang terkait Burung Garuda yang kini menjadi lambang negara Republik Indonesia (RI). Lambang negara ini ternyata awalnya merupakan lambang Kesultanan Sintang.

"Jadi ini (lambang Burung Garuda) awalnya adalah lambang Kesultanan Sintang," ungkap juru kunci Istana Al-Mukarramah Sintang, Thamrin Hasan kepada Liputan6.com di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selasa (17/3/2015).

Menurut dia, lambang garuda itu dipilih sebagai simbol Kesultanan berdasarkan pemberian dari Patih Lohgender dari Kerajaan Majapahit. Ketika itu, pada awal tahun 1400 Masehi, Putri Dara Juanti pergi ke tanah Jawa untuk mencari abangnya, Demong Nutup. Kabarnya sang kakak ditawan pihak Kerajaan Majapahit.

Dijelaskan bahwa Dara Juanti yang menyamar sebagai pria kemudian datang ke Majapahit dan bertemu dengan Patih Lohgender. Putri Sintang itu langsung menyampaikan permohonannya untuk membebaskan abangnya, Deming Nutup. Namun Lohgender mengajukan tes menyeberang sungai untuk membuktikan Dara Juanti adalah benar adik dari Deming Nutup.

Saat proses ujian pembuktian tersebut, identitas Dara Juanti yang menyamar sebagai pria akhirnya tersingkap. Penutup rambut Dara Juanti terlepas, dan Lohgender yang baru mengetahui Sang Putri pun terkesima dengan kecantikannya.

Sejak itu, Lohgender jatuh cinta dan meminta Dara Juanti menjadi istrinya jika ingin kakaknya dibebaskan. Dan Sang Putri pun menyetujui karena ia juga mencintai Patih Majapahit itu.

Akan tetapi, Dara Juanti mengajukan syarat kepada Lohgender jika ingin meminangnya, yakni seserahan berupa keris elok berkepala naga, tiang penyangga gong besar, seperangkat gamelan, dan 40 kepala keluarga dari tanah Jawa. Lohgender pun memenuhinya dan memberikan syarat yang salah satunya tiang penyangga gong berkepala garuda.

"Kepala garuda itu yang kemudian jadi inspirasi Sultan Sintang itu menjadi lambang Kerajaan," beber juru kunci yang kini berusia 71 tahun tersebut.

Burung Garuda Tanpa Jambul

Kata Thamrin, lambang Garuda tersebut kemudian diajukan Sultan Pontianak Abdul Hamid II ke Presiden Sukarno saat mencari lambang negara. Sultan Pontianak itu mengaku tertarik dengan lambang Garuda ketika berkunjung ke Kesultanan Sintang.

"Dan Pak Sukarno menyetujui dan mengadopsi lambang Kesultanan Sintang menjadi lambang negara Indonesia," kata si juru kunci.

Pada rancangan awal yang diajukan Sultan Hamid II Syarif Abdul Hamid, kepala Garuda masih berjambul. Kemudian rancangan kepala Garuda yang diresmikan sebagai lambang negara pada 11 Februari 1950 itu tanpa jambul.

Selain itu, jumlah helai bulu pada leher, sayap, dan ekor Garuda disesuaikan. Jumlah helai bulu leher 45 yang merepresentasikan 2 digit terakhir tahun kemerdekaan. Ada 17 helai bulu pada setiap sayap, yang berarti tanggal kemerdekaan.

Kemudian, 8 helai bulu ekor melambangkan bulan kemerdekaan, yakni Agustus. Dan 19 helai bulu pada pangkal ekor yang menunjukkan 2 digit pertama tahun kemerdekaan.

"Jadi memang kisah cinta dan pernikahan antara Patih Lohgendor dan Putri Dara Juanti yang menjadi cikal bakal terbentuknya lambang Garuda Indonesia," tandas juru kunci Istana Sintang Thamrin Hasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar