Kamis, 20 Juni 2013

BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Meningkat

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan meningkat dari asumsi makro 2013 sebesar 6,3 persen menjadi 6,4 hingga 6,8 persen pada 2014. Hal itu diutarakan oleh Gubernur BI Agus DW Martowardojo saat rapat kerja RAPBN 2014 dengan Komisi XI dan Menteri Keuangan, Kepala Bappenas serta Kepala BPS di Komplek Parlemen di Jakarta, Kamis (20/6).
Menurutnya, bertumbuhnya ekonomi Indonesia pada 2014 tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan global yang ditopang ekonomi Amerika Serikat seiring membaiknya perekonomian China. Sedangkan pada 2013, pertumbuhan ekonomi lebih melambat lantaran dipengaruhi kondisi ekonomi global yang belum prudent.
Selain itu, dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi turut menyumbang melambatnya pertumbuhan ekonomi 2013. "Namun pertumbuhan ekonomi 2013 tetap bisa 6,3 persen. Untuk mencapai asumsi itu kinerja ekspor harus terus didorong untuk memperluas pasar," ujar Agus.
Target pertumbuhan ekonomi ini diambil, tambah Menteri Keuangan Chatib Basri, lantaran ada potensi perbaikan pertumbuhan ekonomi global yang nantinya berdampak kepada pertumbuhan ekonomi nasional. Target pemerintah terkait pertumbuhan ekonomi berbeda dengan target BI.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2014 mencapai 6,4 persen hingga 6,9 persen. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan ekonomi global yang pada 2013 sebesar 3,3 persen membaik menjadi empat persen hingga lima persen.
Ia sadar, meski belum berada di angka aman, tapi setidaknya akan berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi nasional. "Kalau normal itu enam persen. Bahkan, akan ada harapan juga ekspor di 2014 akan lebih baik dibandingkan pada 2013, dengan didukung perbaikan perekonomian dunia," ujarnya.
Untuk target Surat Berharga Negara (SBN), Chatib mengatakan, pada 2014 pemerintah mematok pada level 4,5 persen hingga 5,5 persen. Berbagai upaya akan dilakukan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan kepada masyarakat sehingga inflasi kembali ke angka normal 4,5±1 persen.
Anggota Komisi XI DPR Sadar Subagyo mengkritik berbedanya angka yang dirilis BI dengan Kemenkeu terkait target pertumbuhan ekonomi. Ia menilai, perbedaan ini mengindikasikan terdapatnya persaingan antara BI dengan Kementerian Keuangan. "Sepertinya ada persaingan antara Lapangan Banteng (Kemenkeu, red) dengan Thamrin (BI, red). Harusnya satu angka," ujar politisi dari Partai Gerindra ini.
Namun, hal berbeda diungkapkan Anggota Komisi XI Melchias Markus Mekeng. Ia menilai, perbedaan tersebut memang diperlukan. Karena dengan adanya perbedaan, mencerminkan bahwa BI memiliki pendapat tersendiri mengenai pertumbuhan ekonomi. "Yang benar malah enggak boleh sama. BI harus punya stand alone sendiri, jadi kita lihat keadaan ekonomi itu lebih jernih," ujarnya.
Nilai Tukar
Dalam kesempatan yang sama, BI juga memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada 2014. Menurutnya, pada tahun depan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp9500 hingga Rp9700 per dollar AS. "Kami memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2014 akan berada di kisaran Rp9500-Rp9700 per dollar AS," kata Agus.
Menurutnya, menguatnya rupiah ini lantaran dipengaruhi dengan neraca perdagangan Indonesia yang diperkirakan akan lebih baik dibandingkan 2013. Sedangkan untuk transaksi modal dan finansial, pada 2014 diperkirakan akan tetap mencatat surplus, seiring prospek perekonomian domestik yang juga kuat.
Selain itu, menguatnya rupiah pada 2014 juga karena ditopang oleh proyeksi neraca pembayaran yang akan membaik pada semester II 2013 lantaran pengaruh positif kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Atas dasar itu pula, berbagai pendalaman pasar valas akan terus dilaksanakan BI sehingga berkontribusi positif pada pergerakan nilai tukar tahun 2014.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar