Minggu, 21 April 2013

Tari Saman Gayo dan "Saman Baru" Dijembatani


Mengapresiasi dan membentuk forum komunikasi dialektis fenomena tari dan musik saman dalam tradisi masyarakat Gayo dengan ”saman baru” yang umumnya berbahasa dan berlagu Aceh, pemerintah akan menyelenggarakan Saman Summit 2012 pada 14-15 Desember di Museum Fatahillah, Jakarta.
”Itu untuk memotivasi para seniman mengembangkan idenya guna menciptakan karya seni tari,” kata Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sulistyo Tirtokusumo, Selasa (11/12), di Jakarta.
Ide ini muncul dari keinginan mengenalkan tradisi masyarakat Gayo ”bejamu besaman”, membangun jalinan persaudaraan. Sa- man tak hanya kreativitas seniman di panggung, tapi juga kre- ativitas masyarakat hingga tercipta kebudayaan. Tari saman Gayo dari Kabupaten Gayo Lues dan sekitarnya masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO karena nilai-nilai kemanusia- annya dan fungsi membangun peradaban. ”Jika ada seniman melakukan perubahan dalam saman, silakan saja. Asal nilai dan pakemnya tidak hilang. Yang terpenting penjiwaannya,” katanya.
Seniman tari saman, Agus, menambahkan, tari saman berkembang luas di luar lingkup masyarakat Gayo. Mulai bermunculan ”saman baru” yang umumnya berbahasa dan berlagu Aceh (bukan Gayo) dengan gerakan kombinasi berbagai tarian dan musik Aceh. Beda dengan saman Gayo yang semua pemainnya laki-laki, pemain ”saman baru” bisa perempuan atau campuran.
Sulistyo menegaskan, Saman Summit tak hendak menyelesaikan kontroversi saman Gayo dan ”saman baru”, tetapi membentuk kekerabatan baru. (LUK)
Editor :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar