Minggu, 21 April 2013

Rindang Saman Adelaide Semakin Populer


Rindang Saman Adelaide Semakin PopulerIstimewaRindang Saman Adelaide Semakin Populer.
ADELAIDE, KOMPAS.com - Klub Rindang Saman, kelompok penari Saman milik warga Indonesia di Adelaide semakin populer. Selama bulan April saja, mereka sudah tampil 4 kali di beberapa acara di seputar kota Adelaide. Hari Sabtu (20/4/2013), klub rindang saman ini tampil di Rundle Mall, pusat perbelanjaan utama kota Adelaide sebagai bagian dari Ausdance, lembaga yang berusaha mempopulerkan kegiatan menari (dance) di Australia.
Minggu sebelumnya, Rindang Saman ini tampil di Indofest dan juga sebuah acara guna mempromosikan penyelamatan orang utan. Menurut Angela Wika, salah seorang mahasiswi S-2 dari Universitas Flinders yang menjadi anggota rindang saman, mereka sekarang sering tampil di acara-acara multi budaya di Adelaide. Yang menariknya, menurut laporan koresponden Kompas di Adelaide (Australia), anggota kelompok rindang saman ini terdiri dari berbagai kalangan, dan luwes. "Ada mahasiswi dari berbagai universitas di Adelaide, ada juga istri dari mahasiswa. Anggotanya kadang banyak, kadang sedikit," kata Wika, Minggu (21/4/2013).
Menurutnya, kelompok rindang ini didirikan beberapa tahun lampau oleh seorang warga Indonesia yang tinggal di Adelaide. "Anggotanya bisa siapa saja. Pernah tahun lalu, hanya ada delapan orang, namun tahun ini yang berminat banyak, lebih dari 15 orang." kata Wika lagi.
Klub Rindang Saman ini sekarang dikelola oleh Dr Rini Budiyanti, salah seorang pengurus Asosiasi Indonesia Australia (AIA), sebuah lembaga sosial yang berusaha mendekatkan hubungan Indonesia-Australia. "Tahun lalu kita pertama kali tampil di Festival Moon Lantern, salah satu festival multibudaya besar di Adelaide, dan juga pernah tampil di pusat perbelanjaan Marion dalam acara multibudaya juga." tambah Wika.
Selain Rindang Saman, budaya Indonesia lainnya yang kerap tampil di Adelaide adalah kelompok reog ponorogo Singo Sarjono, yang anggotanya antara lain adalah Dr Priyambudi Sulistyanto, Direktur Pusat Asia Universitas Flinders.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar